Jejak Orang-Orang Indonesia Dalam “Pasukan Sekutu”

0
73

 

( Bagian 2 / Tamat )

Seperti yang saya janjikan kemarin. Kali ini saya akan membahas peran 5 orang Indonesia lainnya yang bergabung dengan pasukan Sekutu dan aktif dalam perlawanan melawan Jerman dan Jepang saat Perang Dunia II.

1. Andi Abdul Azis

Putra asal Bugis kelahiran Sulawesi Selatan pada 19 September 1924 sudah pergi ke Belanda sejak tahun 1935 untuk melanjutkan pendidikannya di negeri kincir angin tersebut. Selepas tamat dari Leger School beberapa tahun kemudian, Andi meneruskan studinya ke Lyceum hingga 1944. Sebetulnya Andi sendiri memiliki keinginan untuk masuk sekolah militer di Belanda agar dapat menjadi seorang prajurit. Akan tetapi niat Andi tersebut tidak pernah terlaksana, Karena Jerman menyerang Belanda pada 1940 sebagai imbas dari Perang Dunia II.

Setelah Jerman merebut Belanda pada 10 Mei 1940, Andi ikut mengungsi bersama dengan segelintir warga sipil dan serdadu Belanda yang tidak menyerah kepada Jerman ke Inggris. Di Inggris Andi kemudian mengikuti latihan pasukan komando di sebuah kamp pelatihan yang terletak 70 kilometer dari luar London. Ia pun lulus dengan pangkat Sersan pada 1945 dan ditempatkan di wilayah India sebagai bagian dari S.E.A.C ( South East Asian Command / Komando Strategis Sekutu di Asia Tenggara ) untuk menghadapi Jepang, akan tetapi perang terlebih dulu usai sebelum Andi dapat bertempur melawan Jepang.

Setelah berakhirnya perang. Andi diperbolehkan memilih tugas apa yang akan diikutinya. apakah ikut satuan Sekutu yang bertugas di Jepang atau yang akan bertugas di gugus Selatan ( Indonesia ). dengan pertimbangan bahwa 11 tahun tidak bertemu orang tuanya di Sulawesi Selatan. Andi akhirnya memilih opsi kedua untuk bertugas di Indonesia.

Pada 1947, Andi dipanggil masuk KNIL dan menjabat sebagai Letnan Dua. setelah itu ia menjadi ajudan Presiden Negara Indonesia Timur, Sukowati. Setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia pada 27 Desember 1949. ia meleburkan diri beserta eks KNIL lainnya ke Angkatan Perang Indonesia Serikat.

Dalam sejarah Indonesia. Andi tercatat sebagai pemberontakan lewat insiden 5 April 1950 di Makassar. Pemberontakan itu dipadampan TNI dan Andi dibui 14 tahun penjara. atas kebijakan pemerintah masa tahanannya dipotong menjadi delapan tahun. Andi selepas keluar dari penjara menghabiskan sisa hidupnya di kampung halamannya di Sulawesi Selatan.

2. Irawan Soejono

Irawan Soejono adalah mahasiswa Indonesia sekaligus putra dari Raden Adipati Ario Soejono, yang merupakan seorang bangsawan Jawa yang menjadi menteri tanpa portofolio dalam kabinet Belanda. Di negeri kincir angin tersebut, Irawan sudah mulai mengenyam pendidikannya semenjak 1934.

Ketika Jerman menduduki Belanda pada 10 Mei 1940. Irawan beserta mahasiswa asal Indonesia lainnya bergabung dengan partisan Belanda untuk melawan Jerman. dalam buku karya Harry A. Poeze yaitu Di Negeri Penjajah mencatat bahwa Irawan adalah anggota aktif gerakan perlawanan / partisan dengan menduduki posisi sebagai salah satu direksi surat kabar propaganda partisan Belanda, De Bevrijding.

Dalam suatu insiden beberapa tahun kemudian, Irawan tewas ditembak serdadu Jerman pada 13 Januari 1945, Ia tewas sebelum Sekutu berhasil merebut Belanda dari tangan Jerman. Atas jasanya melawan pendudukan Jerman. Pemerintah Belanda menganugerahkan penghargaan setelah Ia meninggal dan mengabadikan namanya menjadi nama jalan yaitu Irawan Soejonostraat di Amsterdam, Belanda.

3. Georgine Evie Poetiray

Selain Irawan, ada juga Evie Poetiray. Seorang wanita keturunan Maluku yang menempuh pendidikan kimia di Belanda dan ikut melawan Jerman saat Perang Dunia II. Georgine Evie Poetiray ( Besuki, 13 Januari 1918 ) merupakan putri dari pasangan George Henricus Alfaris Gerard Poetiray dan Sara Suzanne Huppe. Ayahnya yang bekerja di jawatan pos dan telegram meninggal ketika Evie berusia dua tahun, disusul ibunya yang meninggal sembilan tahun kemudian. Evie beserta saudari kandungnya, Rery Poetiray, tinggal di panti asuhan di Surabaya.

Pada 1937, Adiknya yaitu Rery bertolak menuju Belanda disusul dengan sang kakak, Evie. di negeri Kincir Angin tersebut. Evie belajar ilmu kimia dan bergabung dengan Indonesische Christen Jongen ( IJC ) / Organisasi Penghimpun Muda Mudi Kristen Indonesia di Belanda. Pada tahun 1940 Jerman menginvasi dan menduduki Belanda, selang beberapa tahun kemudian yaitu pada musim panas 1942. Evie bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, sama seperti rekan seperjuangannya yaitu Irawan Soejono, Evie turut aktif melawan Jerman dengan mengedarkan propaganda anti Jerman serta menyediakan Intelijen bagi Sekutu hingga akhir perang. Pada 1946 atau setahun setelah berakhirnya Perang Dunia II. Evie memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menikahi Marangi Sianturi, salah seorang koleganya di Perhimpunan Indonesia pada 1947. Evie yang dijuluki oleh Soekarno sebagai Henriette Roland Holst ( penyair dan tokoh komunis Belanda ) dari Indonesia itu menghabiskan hidupnya hingga Ia berpulang pada 27 Agustus 2016.

4. Henry Hoo ( Hoo Chi Sui )

Seorang Tionghoa-Indonesia yang Lahir di Surabaya pada 1912. merupakan putra dari Hoo Bo Liang yang memiliki nama lahir Hoo Chi Sui ini pernah tercatat sebagai seorang pilot pesawat tempur milik Brigade Internasional / International Brigade, yaitu sebuah legiun sukarelawan dari kaum Republikan berisi orang-orang asing yang berasal dari seluruh penjuru dunia yang bertempur melawan kaum Fasis ketika Perang Saudara Spanyol ( 1936-1938 ).

Henry Hoo pergi ke Eropa pada 1935. Saat Perang Saudara Spanyol meletus pada 1936. Ia adalah salah satu dari segelintir orang Tionghoa-Indonesia asal Hindia-Belanda ( Indonesia ) yang mendaftar sebagai sukarelawan kontrak. Kisah Henry sendiri pernah dimuat dalam surat kabar Shin Po pada 1938. Ia kemudian mengawaki sebuah pesawat Uni Soviet dan pernah menjatuhkan sebuah pesawat milik Jerman yang tidak lain adalah negara pendukung utama kaum fasis di Spanyol.

Setelah menyelesaikan kontraknya dalam Perang Saudara Spanyol. Henry beralih ke Angkatan Udara Republik Tiongkok ( Zhonghua Minguo Kongjun ) untuk melawan Jepang pada 1937. Selain Henry, ada beberapa penerbang lain yang berasal dari Etnis Tionghoa-Indonesia kelahiran Hindia Belanda seperti Nio Thiam Seng ( Kelahiran Bandung ), Tan Tin Hio ( Kelahiran Batavia / Jakarta ) dan Tan Gie Gan ( Kelahiran Surakarta / Solo ).

5. Tio Oen Bik

Selain Henry. Adapula Tio Oen Biek, Seorang Tionghoa-Indonesia yang juga ikut bertempur bersama kaum Republik dalam Perang Saudara Spanyol, dimana Ia berperan sebagai tenaga medis. Pria kelahiran 1906 tersebut sebelumnya menimba Ilmu Kedokteran di sekolah kedokteran pribumi yaitu Nederlandsche Indische Artsen School di Surabaya pada pertengahan 1920an. Pada 1929 Ia melanjutkan studinya di Amsterdam, Belanda. disana Ia mendirikan Perhimpunan Peranakan Tionghoa-Indonesia.

Dalam buku Chinese Migrants and Internasionalism : Forgotten Histories 1917-1945 karya Gregor Brenton mencatat bahwa Tio enggan ikut kawan-kawannya pulang ke Hindia-Belanda di masa pergerakan nasional. Dia memilih berada di Spanyol untuk bergabung dengan kaum Republikan melawan Kaum Fasis. Di sana, Ia menangani korban baik dari militer maupun sipil.

Menurut penulis Iwan Santosa dalam bukunya, Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran. tidak hanya Tio yang pernah memiliki andil di negeri asing. Dalam Perang Sino-Jepang, salah satu Organisasi Tionghoa-Indonesia Hoo Hap asal Cianjur, Jawa Barat juga berangkat menuju Tiongkok untuk melawan Jepang. Beberapa dokter dan staf medis Rumah Sakit Medis Jang Seng Ie ( kini Rumah Sakit Husada Jakarta Pusat ) juga dikirim ke Tiongkok untuk melawan Jepang dengan bantuan dana dari para tokoh Anti-Jepang.

Tamat.#ttd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here